Wednesday, July 11, 2012
Secrets of Double Stick Fighting
Friday, February 25, 2011
Modern Arnis
Saturday, July 24, 2010
CDPE WF The 2nd DOCE PARES Hall of Fame Ceremony
Saturday, July 17, 2010
Penamaan Stick Dalam Arnis Eskrima
untuk saat ini kebetulan saya punya secuil tulisan yang bisa dibagi....
tabek
-------------------------------------------------------------------------
ternyata kalau udah bilang olisi itu harus rotan...
khusus untuk rotan ternyata orang pilipino mempunyai sebutan tersendiri secara diameter, yaitu palasan, limuran, tumalim, olisi, sika... kebetulan olisi ya yang sebutan untuk rotan bulat yang diameternya sebesar 2-3 cm. (diameter paling besar palasan yaitu yang biasa dibuat kursi, kalau disini disebut papasan)
selidik punya selidik lagi, olisi itu kata berasal dari bahasa lumad (sebutan suku di mindanau region), yaitu "hulisi" dimana artinya adalah mengeluarkan kotoran dari jeroan (baca usus), dan memang mereka memakai rotan untuk itu, jadi kalau menyebut rotan dg ukuran yang pas untuk keperluan masak memasak (wow banyangin ajah deh lagi menikmati soto jerohan) tersebut mereka memakai kata hulisi...
baston, nah ini secara umum, secara general tanpa melihat bahan.... all stick bisa disebut dg sebutan ini, tetapi ada yang bilang juga kalao baston itu adalah tongkat untuk bantu jalan orang tua yang di kasih lengkungan (seperti huruf "J").
kamagong, kamagong itu nama pohon/kayu di pilipino sejenis kayu besi...
jadi kalau ada yang bilang tongkat eskrima/arnis yang keras dg sebutan kamagong itu salah kaprah, kalao urang pilipino nyebut kamagong itu bahannya harus dari kayu besi.
ada lagi "bahi", bahi itu nama kayu kelapa di pilipino, dan orang pilipino membuat bahi dg mengambil bagian yang paling keras yaitu bagian terdalam semakin dekat kulit luar akan semakin rapuh, so sama juga kalau udah nyebut bahi, ya harus dari kayu kelapa.
terakhir adalah garotte, ini untuk sebutan buat tongkat yang pipih seperti pedang, nah garote sendiri adalah sebuah alat yang dipake spanyol untuk menghukum orang, khusus yang ini saya masih belum menemukan korelasi, kenapa tongkat pipih itu disebut garotte, atau kalao orang sudah didudukkan di alat hukuman itu yang lainnya memukuli dg tongkat pipih? auk ahh masih gelap.... (HC)
Saturday, May 9, 2009
Auman Eskrimador Indonesia
(Kang Dodit minta ijin artikel ente di blog.liputan6.com saya share disini.)
Pada 23 hingga 27 April lalu, saya beserta tujuhbelas rekan berada di Cebu, Filipina, untuk mengikuti World Eskrima Arnis Championship. Saya bisa paham jika banyak yang akan bertanya: kejuaraan apa ini? Eskrima Arnis memang sendiri kurang begitu populer di Indonesia. Namun di Australia, Eropa, serta Amerika jenis beladiri ini cukup dikenal.
Eskrima Arnis adalah salah satu bentuk beladiri yang berasal dari Philipina. Di khazanah beladiri dunia, Eskrima Arnis terkenal dengan tehnik permainan tongkatnya yang mampu memukul sasaran dengan sangat cepat. Bahkan bagi seorang eskrimador (petarung eskrima), melakukan duaratus pukulan dalam satu menit, adalah hal yang biasa.
Berbekal latihan cukup keras selama berbulan bulan, kami tim Indonesia akhirnya memberanikan diri berangkat ke Cebu, Filipina, untuk mengikuti kejuaraan dunia tersebut. Keberangkatan ini ibarat mendatangi kandang macan, karena Cebu adalah asal beladiri eskrima arnis. Apalagi tim dari negara lain pun pasti juga telah mempersiapkan diri dengan maksimal. Maka bisa dikatakan dalam kejuaraan inilah para macan eskrimador dunia berkumpul. Sedangkan tim Indonesia? Apakah macan juga? Kami mencobanya.
Kami berangkat dengan optimisme. Meski demikian jangan anda bayangkan kami berangkat seperti tim olahraga yang sudah mapan dan didukung penuh oleh negara. Jangan dibayangkan kami berangkat dengan didampingi dengan tim offisial yang siap melayani berbagai keperluan bertanding, tim dokter yang siap setiap saat jika kami cedera, serta tim gizi, yang siap menyediakan makanan enak dan bergizi yang layak dan harus dikonsumsi kami sebagai atlit. Bukan seperti itu yang kami alami. Kami nekad berangkat hanya dilandasi pada kecintaan pada olah raga beladiri, khususnya eskrima arnis. Sebelum berangkat, kami (khususnya pelatih kami master Glen Gardiner) berjibaku mengumpulkan dana agar bisa berangkat, mencari tiket pesawat termurah dan mencari informasi penginapan yang terjangkau. Dalam kondisi yang serba terbatas inilah kami berangkat dengan tekad, mengibarkan merah putih di Cebu.
Bagi saya pribadi ada tambahan tugas, yaitu membuat laporan bagi SCTV tentang kejuaraan dunia ini. Sebelum berangkat pun saya sudah membayangkan betapa berat tugas yang harus saya sandang. Selain harus bertanding saya juga harus mengambil gambar, karena dalam tugas kali ini saya tidak didampingi oleh juru kamera, karena tim kami tak mampu membiayai tiket dan akomodasinya.
Demikianlah, dengan semangat 45 kami bertanding di Sport Hall Ayala Cebu Philipina. Selama tiga hari penuh kami bertanding habis habisan. Seluruh apa yang kami pelajari dan kami punyai, kami tumpahkan di ring pertandingan.
Karena tidak didampingi oleh tim offisial maka kami saling membantu saat bertanding. Jika ada teman yang bertanding, maka yang sedang tidak bertanding, bertindak sebagai pendamping, membawa dan membantu memakai peralatan bertanding, mengipasi, mengelap keringat, memberi minum, memijat, dan yang paling penting adalah memompa semangat bertanding. Namun celakanya jadwal pertandingan demikian padat, Sehingga beberapa kali terjadi atlit Indonesia harus bertanding tanpa pendamping. Ia harus melayani diri sendiri tanpa seorang pedamping, dan tanpa pemompa semangat. Ibarat kuda , kami berpacu tanpa kehadiran joki yang harus menyambuk agar bisa berlari kencang.
Sedangkan saya sendiri, selain harus berlaga, dan mendampingi rekan yang bertanding, tugas lain juga harus saya laksanakan, yaitu bertindak sebagai reporter televisi yang harus mengumpulkan informasi serta mengambil gambar. Maka, ditengah nafas tua yang masih ngos ngosan dan peluh mengucur deras usai pertandingan, saya sempatkan mengambil momen-momen selama pertandingan.
Selama tiga hari penuh kami bertanding. Kami memeras keringat, mengatur strategi, dan di salah satu nomor, kami harus menahan sakit manakala tongkat rotan musuh menghantam bertubi-tubi tubuh kami.
Namun akhirnya semua kelelahan, dan rasa rasa sakit seketika musnah begitu saja saat Supreme Grand Master Cacoy Canete, guru besar Cacoy Doce Parres Eskrima Arnis mengalungi medali-medali bagi kami. 6 medali emas disematkan oleh beliau. Jumlah ini mengungguli perolehan medali emas tuan rumah yang hanya mengumpulkan empat medali emas. Itu artinya kami mampu mengaum lebih kencang, mengungguli auman macan-macan eskrimador dari negara lain. Sebuah auman yang membanggakan bagi kami eskrimador Indonesia. (Dodit Setiyohadi)
Sumber: blog.liputan6.com
Friday, October 3, 2008
Eskrido
Latar Belakang
Suatu saat pada th 1948, Ciriaco Cacoy Canete seorang guru di Sekolah beladiri Filipina Francis Academy di Balamban Cebu, Filipina, ditemui Domingo (dari Kepulauan Negros), Dengan tidak sungkan-sungkan Domingo memberitahukan keinginannya untuk satu pertarungan persahabatan dg Cacoy yang dikenal sebagai seorang eskrimador ulung, Saat sore hari Cacoy dan Domingo sepakat mengadakan pertarungan secara Espada Y Daga.
Senjata masing-masing adalah Stick Olisi (Rotan sepanjang 29 inci) yang dipegang tangan utama (kanan) dan pisau kayu (sepanjang 12 inci) di tangan support (kiri), Saling berhadapan dan berlaga dalam jarak rapat, bak gladiator keduanya menunjukkan keyakinan, keberanian, dengan manuver-manuver cepat pada kepiawaian permaianan senjata mereka dengan ketajaman mata untuk mencari celah-celah yang kosong.
Dalam pertimbangan kecepatan, ketepatan, refleks dan kepekaan, Cacoy mempunyai pertahanan yang ketat, serangan-serangan yang dilancarkan berlaju cepat. Gerakannya begitu menakjubkan, dalam melancarkan kombinasi berbagai sudut serangan olisi dan tusukan pisau, arah serangan pada bagian badan, kepala dan tangan. Perubahan-perubahan mendadak dalam timing dan manuver senjata.
Cacoy sangat terampil menebak pola pemikiran dan pola pergerakan cepat dari lawannya, dalam urutan tiga gebrakan cepat olisi dan pisau lawan terlucuti, Dengan memanfaatkan jeda pengambilan nafas pada pertarungan, Cacoy dengan cepat menyapu kaki, hingga membuat Domingo jatuh dengan keras ke matras yang keras.
Tetapi sebagai lawan yang cukup punya kemampuan, keberanian, kebulatan tekad dan keteguhan, Domingo kembali berdiri dan memberikan perlawanan, tetapi satu sapuan cepat memaksanya untuk kembali bergulung-gulung dilantai.
Pada akhirnya, setelah menyadari tiga kali berturut-turut dia harus tergeletak berhadapan dg sapuan-sapuan kaki cepat, dan selalu menemukan dirinya dengan punggung di lantai. Merasa bahwa perjuangannya dalam pertarungan hanya sia-sia melawan Cacoy, Domingo kehilangan semangatnya, dan memutuskan dengan tergesa-gesa untuk merapat mencari selamat ke arah tembok.
Cacoy, melihat sepintas di wajah lawannya tampak satu kebingungan, kemudian dia memutuskan untuk menyudahi lawannya dg serangan pamungkas dengan teknik lebih cepat dan dahsyat, kombinasi antara olisi dan pisau kayu. Tak pelak, Domingo segera melemparkan senjatanya ke lantai, dan segera mengangkat tangannya pertanda menyerah.
Pertarungan Cacoy dengan Domingo bisa dijadikan pertimbangan, dengan kombinasi teknik yang asing dalam eskrima dan membuat lawannya kalah telak dalam beberapa gebrakan adalah satu pertanda lahirnya satu style baru dalam Doce Pares Arnis Eskrima yaitu “ESKRIDO”
Kisah diatas hanyalah salah satu dari pertarungan yang tak terhitung banyaknya yang dialami oleh Cacoy semasa perkembangannya, Eskrido semakin dikenal di masa-masa th 1948 sampai 1956, Dimasa ini Cacoy lebih mendalami Kodokan Judo di Cebu City, Maret 1956 dibawah Yuichi Hirose (6th Dan), Cacoy menjadi wakil resmi pelatihan Kodokan Judo di Filipina.
Dengan usahanya yang tidak mengenal lelah, penuh kesabaran dan pengabdian. Cacoy berhasil meningkatkan kemampuan dan ketertarikannya dalam olah raga bergulat dan membanting ini, itu dibuktikan dg menjadi kompetitor kejuaraan Jodo dalam tingkat Daerah maupun tingkat Nasional, di Cebu City dan juga di Manila dari tahun 1959 sampai th 1963. Pada tahun 1957 Cacoy mendalami Gulat Bebas dan pada tahun 1963 resmi dibawah naungan Philippine Wrestling Association. Cacoy terus memperluas pengetahuan seni beladiri yang dia miliki, dengan belajar Kung Fu, Shorin Ryu (Okinawa) Karate, Shotokan Karate dan Aikido sampai 1971.
Setelah mempunyai dasar-dasar di beberapa system beladiri, Cacoy memusatkan perhatiannya untuk menggabungkan, menciptakan dan mengembangkan satu system yang baru, yang disebut sebagai “Eskrido”.
(diterjemahkan bebas dari: Eskrido@en.wikipedia)
Monday, September 22, 2008
Konsep Jarak Dalam Pertarungan Stick Fighting
Hal yang harusnya dicapai adalah memanfaatkan posisi2 yang paling aman kemudian transisi dan masuk area level Medio. Kondisi yang ekstrem adalah kondisi yang aman:
1. Jauh diluar jangkauan senjata lawan >> Pre Largo (sebelum Largo)
2. Masuk dalam jantung pertahanan lawan dalam posisi "Clinch" >> Post Corto (sesudah Corto)
Dasar pemikiran ini adalah dari Hirarki Jarak dalam pertarungan yang terjadi dari: Largo >> Medio >> Corto
Jarak Largo adalah transisi menuju Medio, dalam jarak ini praktisi harus bisa manipulasi lawan dg memanfaatkan "defanging the snake", yaitu dg tangan pemegang senjata sebagai sasaran serang, Ini adalah konsep Largo-Mano: Targeting an Armed Opponent, dan disini ada footwork liniear Ritirada, yaitu praktisi akan selalu mempertahankan jarak secara ideal dalam jarak Largo, disini semua teknik double stick bisa dipakai: spt Ocho2 (Figure 8), Amara 3 Count (De Kadena), Sinawali Patern dll.
Jarak kedua adalah Medio, "untuk bisa menyelesaikan pertarungan dg sukses, bagian vital dari lawan harus menerima strikes", artinya praktisi harus bisa masuk dalam jarak Medio. Tetapi sebaliknya lawan pun bisa leluasa bisa menjangkau bagian sasaran terbanyak dari ujung kepala sampai lutut! Apa yang harus dilakukan? dalam CDP jarak ini adalah disebut sebagai Media-Largo: Medium Long Range, disini ada manipulasi2 "trap" dalam transisi jarak Largo ke jarak Medio dan sebaliknya, Konsep Media-Largo adalah Konsep Sumbrada: Attack >> Block + Counter >> Block + Re-Counter >> Block + Counter >> Block + Re-Counter >> Sampe Finish (salah satu kalah)
Jarak ketiga adalah jarak Corto, Kondisi yang ekstrem adalah kondisi yang aman masuk dalam jantung pertahanan lawan, dimana lawan akan kesulitan dalam menyerang, yaitu keadaan "Clinch", clinch adalah satu transisi dari posisi aman ke posisi menyerang pada jarak Corto, Dalam CDP ada salah satu konsep yang disebut Corto-Kurbada: Close Range Curved Strikes, ini adalah ciri khas CDP yang di buat oleh GM Cacoy Canete, Disini adalah memanfaatkan Abanico, Planchada dan ada satu desain striking2 yang bisa dilakukan secara stimultant yaitu disebut sebagai Abecedario 12 Pattern Attack. (HC)
Konsep Kesederhanaan Dalam FMA (Filipino Martial Arts)
Semisal, dari materi Cincoteros 5 Count, bila dikembangkan bisa menjadi banyak system, Espada y Daga, Double Olisi, Single Olisi, Knife Fighting, emptyhand system. Disarming ada begitu banyak macam, ada tinjauan dari gerakan2 lebar, gerakan2 detail yang melibatkan wrist, Traping-Locking juga seabrek2.
Bener2 seperti mengarungi satu lautan yang luas tanpa batas, Seorang master akan membutuhkan waktu yang panjang untuk penguasaan terhadap satu sub-system. Tuhon Bill McGrath (Pekiti Tirsia Kali) mengatakan tidak ada kesempurnaan dalam belajar FMA, 12 tahun adalah waktu yang masih terlalu singkat untuk mengexplore secara keseluruhan dalam satu Sub-system FMA.
Setiap beladiri ada tahapan, demikian juga dg FMA, Seorang bayi kalau harus langsung mengkonsumsi Burger-nya Mc Donald, pasti ga mungkin bisa, dia harus membiasakan diri dulu dg bubur halus, namun seiring perkembangganya suatu saat nanti seperti kebanyakan anak kecil pasti akan ribet dan gemar Burger-nya Mc Donald. Step by step, selangkah demi selangkah, itu kalau kita berbicara ttg menaiki anak tangga, kalau langsung lompat pada bagian yang tinggi ya sulit, malah ada kemungkinan jatuh glundung.
FMA adalah beladiri Konsep, dg mengerti konsep setidak2nya ada satu petunjuk yang akan mengarahkan seorang praktisi dalam mengarungi luas-nya lautan FMA. Senjata di ajarkan diawal2 kurikulum, Dari sisi sejarah selain menyiapkan secara instant bagi para petani untuk siap berperang melawan invasi bangsa2 asing, Senjata sendiri memberikan fondasi yang kuat untuk tahapan selanjutnya yaitu emptyhand atau pemakaian tangan kosong.
Double Stick memberikan dasar dalam Stick fighting, dimana praktisi akan mendapat pengetahuan tentang simetri/keseimbangan, adaptasi terhadap alat, koordinasi, ketepatan dan reaksi spontan yang terbatas pada gerakan karena adanya tambahan alat bantu dalam pertarungan, dan kenapa harus dua tangan yang dipersenjatai? hal ini bertujuan untuk mengidupkan satu keadaan tangan yang pasif (tangan kiri bagi orang right handled/bukan kidal) disini praktisi dilatih juga untuk menjadi berani.
Single Stick akan melatih praktisi untuk fokus pada satu bagian anggota badan, disini praktisi belajar pada jarak dan tempo (timing) dan memanagemant power.
Espada Y Daga akan melatih kewaspadaan akan serangan lanjutan, karena dalam espada y daga, tangan support lawan dipersenjatai dengan sesuatu yang tajam, pergerakan-pergerakan detail sangat berarti dalam memanipulasi jarak pertahanan dan penyerangan, hingga praktisi selalu dalam keadaan siap.
Knife Fighting mengajarkan praktisi akan respect atau menghormati lawan (sifat pisau yang tajam), cara bertahan, mencari posisi untuk memberikan reaksi terhadap sesuatu yang berbahaya dalam pertarungan jarak rapat.
Ada satu korelasi dan hubungan yang tidak terputus antar Sub-System dalam FMA. Konsep yang digunakan FMA saling menunjang, mempelajari Stick Fighting System berarti belajar terhadap Edged Weapons System (Pedang dan Pisau) dan juga belajar terhadap Emptyhand System. Praktisi dg bebas mengembangkan core secara indifidual, itulah arti kesederhanaan dalam FMA. (HC)
Saturday, August 16, 2008
Belajar Beladiri Secara Otodidak
Cerita jujur dalam pengalaman awal memberi materi dalam Study Club FMA (Filipino Martial Arts) secara otodidak....
Saya pernah juga icip2 beberapa aliran beladiri spt gulat, tinju, kyokusin dll, tapi semua itu ga bisa disebut saya punya basic disana. Mungkin kalau boleh dibilang yang belajarnya agak lama adalah Pencak Silat, Kuntao dan sedikit Knife Fighting.
Kemudian tertariklah saya dg yang namanya FMA (Filipino Martial Arts), di awal2 di Komunitas Kaskus Martial Arts Forum , nama beladiri Filipina itu ajah masih bingung, yang saya tau hanya Kali, itupun karena saya suka knife fighting terus ketemu Sayoc Kali dan Pekiti Tirsia Kali, masih inget betul karena ketidaktahuan waktu saya nulis kata "escrima" ada yang protes, katanya yang benar adalah "eskrima" beda "c" dan "k" (ternyata keduanya dipake, bisa dipake kata escrima ataupun eskrima, hanya sajah yang lebih banyak dipake adalah eskrima, pake "k").
Setelah beberapa waktu belajar sendiri saya memutuskan bahwa belajar sendiri tidak akan membawa manfaat, beladiri adalah praktikal bukan hanya teory sajah.
Mulailah bergerak mencari para sahabat yang sehobi, FMA(Filipino Martial Arts) tidak dikenal oleh masyarakat kota kecil, jadi harus merayu2 dulu, memberikan beberapa peragaan yang masih gratul2, dan beberapa orang tertarik, kemudian berjalanlah Study Group tersebut.
Banyak temen yang skeptis terhadap keilmuan baru tsb, klo skeptis ya harus pembuktian, Awal dari belajar dari ketidak percayaan teman terhadap satu teknik yang memang saya blom menguasai dg benar menimbulkan satu kekonyolan demi kekonyolan yang memalukan, bagaimana tidak, pernah kejadian:
1. satu kuncian stick fighting bisa berubah jadi bergumul di lantai (jadi gulat).
2. karena tidak benar dalam eksekusi justru stick lawan bikin benjol kepala sendiri.
3. mau mengunci dg teknik torsion (putaran sendi) malah jadi kesleo, karena salah prinsip
4. ngotot bahwa kuncian itu lebih bermanfaat dari striking, padahal striking itu hal pertama dalam urutan jarak.
5. masih inget betul, jempol kanan saya kepukul dg keras oleh mas Tenji (nick seorang sahabat Kaskuser) yang ternyata kidal.
6. memfonis satu teknik ga berguna, ehh ternyata prinsip yang dipake salah dalam detailnya.
dll
Keledai yang digambarkan dungu oleh sebagian orang, tidak pernah masuk terperosok dalam lubang yang sama, demikianlah perjalanan demi perjalanan membuat proses belajar dari ketidakmampuan menuju tau (kalau dibilang menguasai nanti jadi kegedean empyak).
feed back, itu yang selalu saya lakukan, bila saya gagal dalam satu teknik, saya akan mencari dan mencari lagi.
Ya itu sulitnya belajar tanpa guru resmi, teman2 yang disini adalah guru saya, Juga teman2 pelatihan dalam Study Club itulah guru2 saya, untung mereka ga langsung cabut, tetapi tetap semangat dalam mengupas satu teknik ke teknik lainnya untuk mencari yang bisa terbukti dan bisa dipake...
Kaskus Forum Martial Arts pun punya andil besar dalam perjalanan FMA saya, pertemuan dan semangat yang diberikan, dan melalui Pak Irwan Hermawan (nick di Kaskus: Tenshin Shoden), ketemulah saya dg orang yang selama ini saya cari, yaitu Guru FMA beneran, Pak Glen Gardiner, banyak hal2 baru yang saya dapatkan, banyak prinsip2 yang pada awalnya salah dibetulkan, yah boleh dibilang disitulah saya menemukan "roh" dari FMA, dan dari situlah saya mendapat kesempatan untuk bertatap muka langsung dg beberapa tokoh papan atas FMA dunia, bahkan bisa bertatap muka langsung Grand Master Cacoy Canate sendiri....
Sampai saat inipun saya masih dalam proses pencarian, semoga apa yang saya share ini bisa dipetik manfaatnya oleh teman2 yang memiliki kondisi kesulitan dalam mencari guru Style MA ideal yang menjadi impiannyah....
Salam,
Tonny Harto
CDP-WF Stick Fighting World Championship 2007:
2 Gold Medals Men's Middleweight (SR-I)
Wednesday, April 9, 2008
FMA: Beladiri Konsep
Crossada = Pukulan Diagonal
Reversal Crossada = Pukulan Diagonal ke arah atas
Rumpida Upward = Pukulan Vertikal kearah atas
Rumpida Downward = Pukulan Vertikal kearah bawah
Plansada = Pukulan Horisontal
Sungkiti = Tusukan
Pembagian pengurutan adalah merujuk pada lanjutan urutan dalam gerakan arah senjata secara paling efisien, dibawah ini adalah sebagian perbedaan pengurutan pada Doce Pares:
Modern Arnis Basic 12 Strikes
1. Forehand Diagonal to collarbone
2. Backhand Diagonal to collarbone
3. Forehand Horizontal to to ribs or elbow
4. Backhand Horizontal to ribs or elbow
5. Thrust to stomach
6. Palm up Thrust to chest
7. Palm down thrust to chest
8. Downward strike to top of head
9. Upward diagonal from right to left
10. Upward diagonal from left to right
11. Downward strike to top of head
12. Upward Thrust to throat
Cacoy Doce Pares Eskrima 12 Strikes
1. Downward strike to top of head (caveman)
2. Backhand strike to temple (shoulder for practice)
3. Forehand strike to temple
4. Backhand uppercut to ribs
5. Forehand uppercut to ribs
6. Backhand strike to hips
7. Forehand strike to hips
8. Backhand strike to knee
9. Forehand strike to knee
10. thrust to opponents right eye/neck
11. thrust to opponents left eye/neck
12. thrust to opponents solar plexus/ jam up.
Doce Pares Eskrima
1. Diagonal forehand strike to left shoulder
2. Diagonal backhand strike to right shoulder
3. Horizontal forehand strike to left ribs
4. Horizontal backhand strike to right ribs
5. Palm down thrust to stomach
6. Palm up thrust to stomach
7. Diagonal forehand strike to left knee
8. Diagonal backhand strike to right knee
9. Palm down thrust to chest
10. Palm up thrust to chest
11. Downward strike to top of head
12. Backhand strike (Witik) to temple
Pekiti-Tirsia Kali Basic 12 Angles
1. Forehand Horizontal to ear
2. Backhand Horizontal to ear
3. Forehand Horizontal to ribs or elbow
4. Backhand Horizontal to ribs or elbow
5. Low line thrust to the groin or prostate gland
6. Backhand Diagonal cavical to opposite foot
7. Forehand Horizontal to knee
8. Backhand thrust to solar plexus
9. Forehand thrust to heart
10. Two handed downward slash from top of head to either foot
11. Two-handed grip thrust driving 45 degrees downward into the bridge of the nose
12. Single hand thrust driving 45 degrees into the bridge of nose with simultaneous palm strike to groin with live hand.
San Miguel Eskrima Momoy Canete
1. Diagonal forehand slash to neck or collarbone
2. Diagonal backhand slash to neck or collarbone
3. Horizontal forehand slash to waist, hip, or elbow
4. Horizontal backhand slash to waist, hip or elbow
5. Thrust to lower right quadrant – palm down
6. Thrust to lower left quadrant – palm up
7. Upward forehand diagonal slash to knee or hip
8. Upward backhand diagonal slash to knee or hip
9. Thrust to upper right quadrant – palm down
10. Thrust to upper left quadrant – palm up
11. Vertical slash downward to crown of head
12. High palm-down thrust to temple or eye
Illustrisimo Numbering System
1. Downward diagonal from right to left
2. Horizontal from left to right
3. Horizontal from right to left
4. Downward diagonal from left to right
5. Stab to midsection thumb up
6. Upward diagonal from left to right
7. Upward diagonal from right to left
8. Stab to shoulder/neck thumb up
9. Stab to shoulder/neck thumb down
10. Vertical downward strike through top of skull
11. Low downward diagonal from right to left
12. Low downward diagonal from left to right
Lameco Escrima
1. left ear (forehand)
2. right knee (back hand)
3. left knee (fh)
4. right ear (bh)
5. thrust to stomach (forhand palm down)
6. right elbow (bh)
7. left elbow (fh)
8. thrust solar plexus (bh palm up)
9. right collar bone (bh)
10. thrust heart (fh palm down)
11. left collar bone (fh)
12. crown of head (fh)
WEDO Ocho Teros – Eight Count
1. Forehand Diagonal to collarbone
2. Backhand Diagonal to collarbone
3. Upward diagonal from right to left
4. Upward diagonal from left to right
5. Thrust to stomach
6. Palm up Thrust to chest
7. Palm down thrust to chest
8. Downward strike to top of head
Cinco Teros - Five Counts
Angle 1- 45 degree strike to the upper region
Angle 2- Left side 45 degree strike to upper region
Angle 3- Right side 90 degree strike to mid region
Angle 4- Left side 90 degree strike to mid region
Angle 5- straight thrust to mid section
Dalam Arnis-Eskrima, diajarkan blocking system yang dilanjutkan dengan counter dan trap-locking terhadap angle attack. salah satu hal yang unik adalah semua part of trap-locking counter, bisa saling tukar menukar tempat...
Semisal:
angle 1 trap-locking A
angle 2 trap-locking B
angle 3 trap-locking C
angle 4 trap-locking D
angle 5 trap-locking E
angle 6 trap-locking F
dan seterusnyah...
trap-locking ABCDEF tersebut bisa dipakai pada angle 1, angle 2, angle 3 dst, Arnis-Eskrima adalah suatu konsep yang dinamis dan sederhana...
Double stick, Single stick, Espada y Daga, Knife, emptyhand semua dalam satu pola yang sama, belajar stickfighting otomatis juga belajar pedang, belajar pisau dan juga belajar tangan kosong.
Satu bentuk trap-locking dalam arnis-eskrima bisa berkembang pada bentuk trap-locking yang lainnyah...
Silabus dalam counter-trap-locking adalah sebagai mewakili satu "konsep pola", tetapi secara umum untuk counter terhadap satu angle bisa berkembang ke arah apa sajah sesuai dg flow yang terjadi, dalam hal ini menguasai "konsep" sangat penting, tanpa hal tersebut tidak akan ada perkembangan dalam belajar FMA. (hartcone)
Saturday, March 29, 2008
Datuk di Filipina
Dalam struktur masyarakat Muslim Filipina, Sultan merupakan kedudukan yang tertinggi, lemudian diikuti oleh datu. Kebesaran seorang datu diukur dari jumlah pengikutnya. Peranan datu adalah penting dalam masyarakat Muslim Filipina. Pada zaman silam, mereka mengetuai penyerangan ke kampung-kampung yang lain sebagai balas dendam (mempertahankan martabat) untuk kematian salah satu anggota suku atau jika ada pelanggaran kehormatan. Pada masa kini, datu masih berperanan sebagai ketua masyarakat Islam di Mindanao dan mentahbiskan hukum Shariat. Dukungan dari para datu ini adalah penting untuk menjalankan program-program kenegaraan pada masa kini di dalam masyarakat Islam di sana.
Pada pagi hari tanggal 27 April 1521, Lapu-Lapu bersama rakyat pulau Maktan, dengan bersenjata tombak dan kampilan (sejenis parang) berperang menghadapi tentara Spanyol yang dipimpin oleh kapten Ferdinand Magellan. Dalam perang yang dikenal sebagai Perang Maktan tersebut, Magellan dan beberapa anak buahnya terbunuh.
Sebagai penghormatan atas keberaniannya, rakyat Cebuano mendirikan patung Lapu-Lapu dan mengganti nama kota Opon di Cebu menjadi Kota Lapu-Lapu.
Thursday, February 21, 2008
Filipino Martial Arts (FMA)
Ada satu miskonsepsi dari orang awam bahwa FMA adalah satu beladiri stick fighting, tapi sebenarnyah itu adalah anggapan yang salah. Kali-Arnis-Eskrima mengembangkan keahlian untuk seni bela diri dengan senjata dan seni bela diri tangan kosong dalam satu dasar keilmuan.
Semua sistem Kali-Arnis-Eskrima mengajarkan penggunaan berbagai macam senjata, keahlian bela diri tangan kosong "pangamot, suntukan, sikaran, pananjakan", keahlian bergulat dan membanting "dumog", keahlian mengigit dan mencolok mata "kino mutai' dimana secara umum itu adalah keahlian yang dibutuhkan dalam seni mempertahankan diri. dan satu lagi adalah sistem pengobatan, pemijatan, pengenalan kepada tanaman obat tradisional yang disebut sebagai "hilot".
Keahlian seni bela diri dengan menggunakan senjata dan tangan kosong diajarkan dalam metode yang saling berkaitan dan saling menunjang satu sama lainnya. Yang banyak dipakai adalah berupa tongkat tunggal (solo olisi/baston), tongkat ganda (double olisi / baston) dan pedang atau tongkat yang digunakan bersama dengan pisau (espada y daga). Sebagian sistem diketahui mengkhususkan pada cambuk dan tongkat panjang (toya).
Kata Eskrima adalah ucapan secara Filipina dari bahasa Spanyol "esgrima", dalam Inggris adalah kata "skirmish" yang berarti "perang".
Arnis adalah bagian dari kata "Arnes de Mano" yang berarti "perkerasan terhadap tangan".
Sedangkan penamaan Kali ada beberapa versi, sebagian mengatakan berasal kepada kata senjata berupa keris, atau kalis. Yang lain mengatakan berasal dari pengabungan kata "kamot" atau "kamay" yang berarti "tangan" atau "tubuh", dan lihok yang berarti "pergerakan".
Satu hal yang unik dalam beladiri filipina adalah pelajaran senjata diajarkan di awal kurikulum, ini adalah satu tradisi yang terus berlanjut dari sejarah FMA, pada awalnya adalah secara instant mencetak prajurit tempur untuk melawan invasi bangsa spanyol dan bangsa2 lainnyah...
Setelah saya masuk didalamnya ternyata ada satu hal yang menarik untuk diamati, sama seperti beladiri tangan kosong lainnya siswa akan dituntut untuk bisa lebih menguasai gerakan dengan banyak frekuensi pelatihan dalam striking, kalau belajar karete tentunya sesorang praktisi karate akan melakukan pukulan ribuan kali, dalam TKD juga demikian praktisi TKD akan melakukan ribuan kali tendangan, dalam Arnis-Eskrima seorang siswa tidak boleh bosan untuk melakukan strike dengan olisi/baston.
Di CDP CMAA sendiri ada satu tradisi memukul ban atau sandbag, satu menit untuk masing-masing tangan selama lebih dari 10 menit untuk pemanasan, dengan kaki berjinjit dan melompat-lompat, bagi yang melihat mungkin mengatakan ahh hanya begitu saja, tetapi ketika dilakukan waduhh, pegel, cape, ngos-ngsanan, forearm dan deltoid akan terasa kaku. Tanpa disadari pelatihan seperti itu nantinya akan membangun satu forearm yang kuat, yang akan dibutuhkan dalam beladiri tangan kosong, yang banyak menerapkan trap, locking dan throwing.
Ada pelatihan yang dinamakan "amara" yaitu memutar olisi/baston secara bersusulan, "sinawali" yaitu pelatihan secara berpasangan dimana dua orang praktisi akan saling memukulkan olisi/baston mereka dengan irama-irama yang tetap, pelatihan memakai senjata mempunyai kelebihan kalau tidak benar akan "nyantol" nah ini benar-benar menuntut siswa untuk membangun sensitivity dan koordinasi gerakan tangan, secara lebih terarah.
Dari kedua aspek ini, didapatkan keuntungan untuk membangun power, stamina sekaligus koordinasi gerakan dan sensitivity dalam satu paket pelatihan.
Dalam FMA ada satu korelasi antara senjata dan empty hand, konsep FMA akan memperlakukan dengan sama kedua aspek tersebut dengan sedikit penyesuaian. Senjata adalah perkerasan dan perpanjangan tangan, kalau pada akhurnya nanti senjata itu dibuang tetap ada satu kesamaan prinsip.
Di FMA dikenal "punto" dan "punyo", punto adalah ujung, punyo adalah pangkal, keduanya bisa dipakai sebagai alat serang, juga bisa diperlakukan untuk sebagai sasaran serang.
Korelasinya adalah dalam stick, punto ujung stick sebagai alat serang utama, punyo adalah bagian lebih stick yang dipegang (biasanyah disisakan 2 jari sampai satu kepal), FMA akan memperkalukan hal yang sama terhadap tangan dan kaki, dalam hal ini punto adalah kepalan dan ujung kaki sedangkan punyo adalah siku dan lutut.
Karena stick adalah blunt weapons atau senjata tumpul, kemungkinan lawan bisa graping atau memegang, maka terciptalah satu jalan penyelesaian, secara mekanik stick yang panjang tersebut bisa di "ungkit", dimana ada hukum fisika disana, maka FMA terlihat kaya akan trap dan locking, dalam konsep korelasi demikian juga perlakuan terhadap tangan dan kaki dalam anatomi tangan dan kaki akan sakit bila dipuntir, diungkit dll. itu semua dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Korelasi dengan senjata tajam, stick sendiri merupakan pelatihan terhadap senjata tajam berupa pedang medium (dipegang dengan satu tangan), barong, pinuti, keris sundang, parang dll
Dalam pisau yang relatif lebih pendek, bila cara memegangnya memakai hammer grips (cara pegang standard, ujung tajam pisau menghadap kedepan) korelasinya adalah ujung tajam pisau sebagai punto yang diperpendek, sedangkan bila cara memegangnya adalah ice-pick grip (cara pegang terbalik, ujung menghadap ke belakang) korelasinya ujung tajam pisau dipakai sebagai punyo. (hartcone)
