Showing posts with label stick fighting. Show all posts
Showing posts with label stick fighting. Show all posts

Saturday, July 24, 2010

CDPE WF The 2nd DOCE PARES Hall of Fame Ceremony





For Information:
CMAA INDONESIA
http://www.thecmaa.com
Tetra Pak Building Ground Fl
Jl. Buncit Raya Kav.100 12510 Jakarta, Indonesia

Saturday, May 9, 2009

Auman Eskrimador Indonesia

Ini adalah laporan perjalanan sahabat saya, Dodit Setiyohadi, yang kemaren bersama2 mengikuti kejuaraan Cacoy Doce Pares World Arnis Eskrima Championship 2009 di Cebu Pilipina, dimana kami team CDP-CMAA Indonesia dibawah asuhan Master Glen Gardiner bisa membawa pulang 6 medali emas, 8 medali perak dan 11 medali perunggu.

(Kang Dodit minta ijin artikel ente di blog.liputan6.com saya share disini.)

Pada 23 hingga 27 April lalu, saya beserta tujuhbelas rekan berada di Cebu, Filipina, untuk mengikuti World Eskrima Arnis Championship. Saya bisa paham jika banyak yang akan bertanya: kejuaraan apa ini? Eskrima Arnis memang sendiri kurang begitu populer di Indonesia. Namun di Australia, Eropa, serta Amerika jenis beladiri ini cukup dikenal.

Eskrima Arnis adalah salah satu bentuk beladiri yang berasal dari Philipina. Di khazanah beladiri dunia, Eskrima Arnis terkenal dengan tehnik permainan tongkatnya yang mampu memukul sasaran dengan sangat cepat. Bahkan bagi seorang eskrimador (petarung eskrima), melakukan duaratus pukulan dalam satu menit, adalah hal yang biasa.

Berbekal latihan cukup keras selama berbulan bulan, kami tim Indonesia akhirnya memberanikan diri berangkat ke Cebu, Filipina, untuk mengikuti kejuaraan dunia tersebut. Keberangkatan ini ibarat mendatangi kandang macan, karena Cebu adalah asal beladiri eskrima arnis. Apalagi tim dari negara lain pun pasti juga telah mempersiapkan diri dengan maksimal. Maka bisa dikatakan dalam kejuaraan inilah para macan eskrimador dunia berkumpul. Sedangkan tim Indonesia? Apakah macan juga? Kami mencobanya.

Kami berangkat dengan optimisme. Meski demikian jangan anda bayangkan kami berangkat seperti tim olahraga yang sudah mapan dan didukung penuh oleh negara. Jangan dibayangkan kami berangkat dengan didampingi dengan tim offisial yang siap melayani berbagai keperluan bertanding, tim dokter yang siap setiap saat jika kami cedera, serta tim gizi, yang siap menyediakan makanan enak dan bergizi yang layak dan harus dikonsumsi kami sebagai atlit. Bukan seperti itu yang kami alami. Kami nekad berangkat hanya dilandasi pada kecintaan pada olah raga beladiri, khususnya eskrima arnis. Sebelum berangkat, kami (khususnya pelatih kami master Glen Gardiner) berjibaku mengumpulkan dana agar bisa berangkat, mencari tiket pesawat termurah dan mencari informasi penginapan yang terjangkau. Dalam kondisi yang serba terbatas inilah kami berangkat dengan tekad, mengibarkan merah putih di Cebu.

Bagi saya pribadi ada tambahan tugas, yaitu membuat laporan bagi SCTV tentang kejuaraan dunia ini. Sebelum berangkat pun saya sudah membayangkan betapa berat tugas yang harus saya sandang. Selain harus bertanding saya juga harus mengambil gambar, karena dalam tugas kali ini saya tidak didampingi oleh juru kamera, karena tim kami tak mampu membiayai tiket dan akomodasinya.

Demikianlah, dengan semangat 45 kami bertanding di Sport Hall Ayala Cebu Philipina. Selama tiga hari penuh kami bertanding habis habisan. Seluruh apa yang kami pelajari dan kami punyai, kami tumpahkan di ring pertandingan.

Karena tidak didampingi oleh tim offisial maka kami saling membantu saat bertanding. Jika ada teman yang bertanding, maka yang sedang tidak bertanding, bertindak sebagai pendamping, membawa dan membantu memakai peralatan bertanding, mengipasi, mengelap keringat, memberi minum, memijat, dan yang paling penting adalah memompa semangat bertanding. Namun celakanya jadwal pertandingan demikian padat, Sehingga beberapa kali terjadi atlit Indonesia harus bertanding tanpa pendamping. Ia harus melayani diri sendiri tanpa seorang pedamping, dan tanpa pemompa semangat. Ibarat kuda , kami berpacu tanpa kehadiran joki yang harus menyambuk agar bisa berlari kencang.

Sedangkan saya sendiri, selain harus berlaga, dan mendampingi rekan yang bertanding, tugas lain juga harus saya laksanakan, yaitu bertindak sebagai reporter televisi yang harus mengumpulkan informasi serta mengambil gambar. Maka, ditengah nafas tua yang masih ngos ngosan dan peluh mengucur deras usai pertandingan, saya sempatkan mengambil momen-momen selama pertandingan.

Selama tiga hari penuh kami bertanding. Kami memeras keringat, mengatur strategi, dan di salah satu nomor, kami harus menahan sakit manakala tongkat rotan musuh menghantam bertubi-tubi tubuh kami.

Namun akhirnya semua kelelahan, dan rasa rasa sakit seketika musnah begitu saja saat Supreme Grand Master Cacoy Canete, guru besar Cacoy Doce Parres Eskrima Arnis mengalungi medali-medali bagi kami. 6 medali emas disematkan oleh beliau. Jumlah ini mengungguli perolehan medali emas tuan rumah yang hanya mengumpulkan empat medali emas. Itu artinya kami mampu mengaum lebih kencang, mengungguli auman macan-macan eskrimador dari negara lain. Sebuah auman yang membanggakan bagi kami eskrimador Indonesia. (Dodit Setiyohadi)

Sumber: blog.liputan6.com

Monday, September 22, 2008

Konsep Jarak Dalam Pertarungan Stick Fighting

Dimana jarak ideal untuk memaksimalkan striking dalam FMA Stick Fighting? Largo? Medio? Corto? Tentunya jawaban adalah jarak Medio, tetapi dalam hukum aksi-reaksi yang terjadi terjadi adalah, praktisi dg leluasa bisa menjangkau bagian sasaran terbanyak dari ujung kepala sampai lutut lawan, sebaliknya lawan pun bisa melakukan hal yang sama.

Hal yang harusnya dicapai adalah memanfaatkan posisi2 yang paling aman kemudian transisi dan masuk area level Medio. Kondisi yang ekstrem adalah kondisi yang aman:
1. Jauh diluar jangkauan senjata lawan >> Pre Largo (sebelum Largo)
2. Masuk dalam jantung pertahanan lawan dalam posisi "Clinch" >> Post Corto (sesudah Corto)
Dasar pemikiran ini adalah dari Hirarki Jarak dalam pertarungan yang terjadi dari: Largo >> Medio >> Corto

Jarak Largo adalah transisi menuju Medio, dalam jarak ini praktisi harus bisa manipulasi lawan dg memanfaatkan "defanging the snake", yaitu dg tangan pemegang senjata sebagai sasaran serang, Ini adalah konsep Largo-Mano: Targeting an Armed Opponent, dan disini ada footwork liniear Ritirada, yaitu praktisi akan selalu mempertahankan jarak secara ideal dalam jarak Largo, disini semua teknik double stick bisa dipakai: spt Ocho2 (Figure 8), Amara 3 Count (De Kadena), Sinawali Patern dll.

Jarak kedua adalah Medio, "untuk bisa menyelesaikan pertarungan dg sukses, bagian vital dari lawan harus menerima strikes", artinya praktisi harus bisa masuk dalam jarak Medio. Tetapi sebaliknya lawan pun bisa leluasa bisa menjangkau bagian sasaran terbanyak dari ujung kepala sampai lutut! Apa yang harus dilakukan? dalam CDP jarak ini adalah disebut sebagai Media-Largo: Medium Long Range, disini ada manipulasi2 "trap" dalam transisi jarak Largo ke jarak Medio dan sebaliknya, Konsep Media-Largo adalah Konsep Sumbrada: Attack >> Block + Counter >> Block + Re-Counter >> Block + Counter >> Block + Re-Counter >> Sampe Finish (salah satu kalah)

Jarak ketiga adalah jarak Corto, Kondisi yang ekstrem adalah kondisi yang aman masuk dalam jantung pertahanan lawan, dimana lawan akan kesulitan dalam menyerang, yaitu keadaan "Clinch", clinch adalah satu transisi dari posisi aman ke posisi menyerang pada jarak Corto, Dalam CDP ada salah satu konsep yang disebut Corto-Kurbada: Close Range Curved Strikes, ini adalah ciri khas CDP yang di buat oleh GM Cacoy Canete, Disini adalah memanfaatkan Abanico, Planchada dan ada satu desain striking2 yang bisa dilakukan secara stimultant yaitu disebut sebagai Abecedario 12 Pattern Attack. (HC)

Konsep Kesederhanaan Dalam FMA (Filipino Martial Arts)

FMA sering di katakan sebagai beladiri yang sederhana, dalam sejarah FMA adalah beladiri para petani. Tetapi melihat apa yang ada didalamnya bayangan sederhana itu pasti akan segera berubah menjadi sesuatu yang rumit, ini dapat terlihat dari banyaknya materi dalam kurikulum yang harus dipelajari seperti Double Olisi, Single Olisi, Espada y Daga, Knife Fighting, Pangamot / Mano-mano, mungkin juga begitu banyak matematika permainan angka dalam thread ini.

Semisal, dari materi Cincoteros 5 Count, bila dikembangkan bisa menjadi banyak system, Espada y Daga, Double Olisi, Single Olisi, Knife Fighting, emptyhand system. Disarming ada begitu banyak macam, ada tinjauan dari gerakan2 lebar, gerakan2 detail yang melibatkan wrist, Traping-Locking juga seabrek2.

Bener2 seperti mengarungi satu lautan yang luas tanpa batas, Seorang master akan membutuhkan waktu yang panjang untuk penguasaan terhadap satu sub-system. Tuhon Bill McGrath (Pekiti Tirsia Kali) mengatakan tidak ada kesempurnaan dalam belajar FMA, 12 tahun adalah waktu yang masih terlalu singkat untuk mengexplore secara keseluruhan dalam satu Sub-system FMA.

Setiap beladiri ada tahapan, demikian juga dg FMA, Seorang bayi kalau harus langsung mengkonsumsi Burger-nya Mc Donald, pasti ga mungkin bisa, dia harus membiasakan diri dulu dg bubur halus, namun seiring perkembangganya suatu saat nanti seperti kebanyakan anak kecil pasti akan ribet dan gemar Burger-nya Mc Donald. Step by step, selangkah demi selangkah, itu kalau kita berbicara ttg menaiki anak tangga, kalau langsung lompat pada bagian yang tinggi ya sulit, malah ada kemungkinan jatuh glundung.

FMA adalah beladiri Konsep, dg mengerti konsep setidak2nya ada satu petunjuk yang akan mengarahkan seorang praktisi dalam mengarungi luas-nya lautan FMA. Senjata di ajarkan diawal2 kurikulum, Dari sisi sejarah selain menyiapkan secara instant bagi para petani untuk siap berperang melawan invasi bangsa2 asing, Senjata sendiri memberikan fondasi yang kuat untuk tahapan selanjutnya yaitu emptyhand atau pemakaian tangan kosong.

Double Stick memberikan dasar dalam Stick fighting, dimana praktisi akan mendapat pengetahuan tentang simetri/keseimbangan, adaptasi terhadap alat, koordinasi, ketepatan dan reaksi spontan yang terbatas pada gerakan karena adanya tambahan alat bantu dalam pertarungan, dan kenapa harus dua tangan yang dipersenjatai? hal ini bertujuan untuk mengidupkan satu keadaan tangan yang pasif (tangan kiri bagi orang right handled/bukan kidal) disini praktisi dilatih juga untuk menjadi berani.

Single Stick akan melatih praktisi untuk fokus pada satu bagian anggota badan, disini praktisi belajar pada jarak dan tempo (timing) dan memanagemant power.

Espada Y Daga akan melatih kewaspadaan akan serangan lanjutan, karena dalam espada y daga, tangan support lawan dipersenjatai dengan sesuatu yang tajam, pergerakan-pergerakan detail sangat berarti dalam memanipulasi jarak pertahanan dan penyerangan, hingga praktisi selalu dalam keadaan siap.

Knife Fighting mengajarkan praktisi akan respect atau menghormati lawan (sifat pisau yang tajam), cara bertahan, mencari posisi untuk memberikan reaksi terhadap sesuatu yang berbahaya dalam pertarungan jarak rapat.

Ada satu korelasi dan hubungan yang tidak terputus antar Sub-System dalam FMA. Konsep yang digunakan FMA saling menunjang, mempelajari Stick Fighting System berarti belajar terhadap Edged Weapons System (Pedang dan Pisau) dan juga belajar terhadap Emptyhand System. Praktisi dg bebas mengembangkan core secara indifidual, itulah arti kesederhanaan dalam FMA. (HC)