Sunday, August 3, 2008

Olahraga Beladiri Dan Seni Beladiri Seharusnya Saling Menunjang Part #2

Manusia yang mau maju tentunya tidak akan cepat berpuas diri, tapi punya visi kedepan, tahapan yang harus dilalui dan cita2 luhur, apalagi kalau melihat sejarah tokoh2 panutan, untuk itulah semangat mengejar sesuatu yang tinggi itu perlu, bila tidak ada hitam tentu orang tidak akan kenal putih, bila tidak ada siang tentunya orang tidak akan kenal malam, itu adalah pembandingan yang ekstrem, tapi tidak seperti demikian yang akan kita bahas disini, kalau demikian apa bedanya dengan orang yang hanya tau hitam dan putih saja, disini kita membicarakan tahapan dalam MA yang harus dilalui seperti kata bijak: "Kalau mo jadi ahli ya seenggaknya lewatin level gak tahu, tahu, paham, ngerti, bisa, terampil, mahir, ahli, sampai cinta setengah mati..."

Ilmu berkelahi adalah satu hal yang masih "rare", sadis yaitu cara pembelaan diri manusia secara fisik sajah tanpa aturan, segala sesuatu halal, apalagi yang kotor, curang dan licik, semakin brutal semakin bagus, kalau dibuat dalam bentuk jamak dan melibatkan orang banyak jadi "Seni Perang", apapun dilakukan dg teknologi persenjataan dll. Karena dilakuan oleh masyarakat yang bervariasi dan berbeda2 dengan kebudayaan dan seni masing2 maka boleh dibilang Aspek Seni dan Budaya, Satu tingkat lebih tinggi lagi adalah memasukkan unsur Spiritual dan Filosofi, nah ini juga membatasi keadaan manusia, bukan karena terpaksa karena aturan orang kedua dg perjanian dll atau yang sudah dibuat oleh pihak ketiga, tapi karena kesadaran akan sesuatu Yang Lebih Tinggi, disini yang membatasi adalah secara kesadaran akan diri sendiri.

Perkembangannya adalah “Olahraga Beladiri”, pengen sehat-pun bisa berlatih berladiri, didalamnya ada satu tiruan pertarungan sebenarnya yang disebut “pertandingan”, ini satu bentukan yang diatur oleh perjanjian yang melibatkan pihak kedua dan pihak ketiga, keselamatan menjadi sangat penting, walaupun toh ada ajah yang masih namanya kecelakaan sampe meninggal dunia, sportifitas, ini yang disebut sebagai Seni Beladiri.

Pendekatan yang berbeda:
Pemikiran lain dari “Olahraga Beladiri” adalah karena adanya aturan yang sudah dibuat, oleh sebab itu ga ada salahnyah bila yang diatur tadi justru yang dimatangkan dan mendapat perhatian yang lebih, sehingga sebenarnyah Olahraga Beladiri bisa sajah menjadi satu bentuk yang lepas jika begitu banyak hal dari Seni Beladiri secara utuh yang dianggap berbahaya di buang dan dianggap tidak perlu diajarkan. Ini memang satu hal yang wajar dan tidak bisa disalahkan, karena keberadaannya sesuai dg perkembangan jaman.

Apa yang menjadi keharusan inti Seni Beladiri itu sendiri, tentunya yang menjadi landasan adalah sesuatu yang sudah dipikirkan oleh para pendahulu kita, kalau disimak dalam Pencak Silat ada 4 Aspek "Olahraga-Kesehatan, Beladiri, Seni Budaya, dan Spiritual dan Filosofi." Harapannya adalah semuanya bisa berjalan saling menunjang. (HC)

Olahraga Beladiri Dan Seni Beladiri Seharusnya Saling Menunjang Part #1

Seni beladiri adalah satu bentuk yang diciptakan atau tercipta untuk memaksimalkan potensi yang ada pada manusia, untuk mempertahankan diri, untuk melindungi diri terhadap serangan secara fisikal pada eksistensi manusia itu sendiri, dengan kata lain seni beladiri adalah sesuatu yang pasif, bukan sesuatu yang aktif.

Dalam kenyataannya sifat manusia yang punya ego mungkin bisa menempatkan Seni Beladiri menjadi bergeser. Perebutan kekuasaan, keserakahan, ketamakan dan segala sifat buruk manusia pada akhirnya bisa menjadi kalimat aktif, tentunya dipakai kata yang lain untuk mewakilinyah dan itu berubah menjadi "Ilmu Berkelahi", Tanpa aturan, taktik dan strategi dll dimana menempatkan "Ilmu Berkelahi" menjadi sesuatu yang "lethal", sangat mematikan dan membunuh.

Hukum, kebudayaan, kemasyarakatan yang semakin santun menempatkan "Ilmu Berkelahi" kembali menjadi "Seni Beladiri", Hal yang brutal, bersifat menghancurkan "diubah" menjadi sesuatu yang beradab. perkembangan jaman pun menuntut satu bentuk lain dari "Seni Beladiri" menjadi "Olahraga Beladiri", kalau pada awal2nya dua orang yang bertemu dan menciptakan satu kesepakatan untuk "pembuktian" ya otomatis teken "kontrak mati", tapi itu semua jadi berubah, menjadi "pertandingan"

Beladiri sebagai Pertandingan itu adalah sarana latihan, praktek beberapa jurus, kecerdikan, kekuatan, kecepatan dan banyak lagi. Pertandingan beladiri ini adalah permainan, the game... seperti playstation, skateboard, sepakbola, dll.

Hal paling penting yang didapat adalah kesempatan untuk mendapatkan pengalaman, kita tau bagaimana caranya memukul, mengunci, menbanting dll. sebaliknya kita juga jadi tahu rasanya dipukul ditendang dan dibanting sekeras-kerasnya. dalam hal ini adalah sesuai dg prinsip beladiri sendiri semakin banyak beladiri diasah dipraktekkan hasilnya adalah menjadi semakin baik.

Dg adanya even2 pertandingan yang merupakan permainan resmi di antara para praktisi beladiri disana juga merupakan ajang yang tepat untuk mencari kawan2 baru, berkenalan, bersilaturahmi.... baik diantara kawan seperguruan maupun dengan kawan dari perguruan lain.

Disamping hal utama tersebut disini kita bisa memberi dan bisa untuk mengharumkan kelompok komunitas, kedaerahan, bahkan mengharumkan nama bangsa dan negara. bahkan.... ini yang keren, anda bisa membuat uang disana! Ada juga bonus yang dijanjikan dalam Prestasi Olahraga oleh negara.

Kenyataan yang ada dalam masyarakat, ada yang mengagungkan Olahraga Beladiri, tetapi ga jarang juga yang memojokkan Olahraga Beladiri menjadi sesuatu yang tidak ada apa2nya dan tumpul, dikatagorikan sebagai "level rendah". Semua marilah kita kembalikan pada cara pandang masing2 individu.

Ada kalimat bijak, "Orang yang menang perkelahian tanpa melukai lawan adalah ahli", ini mengajak kita semua utuk mengembalikan posisi "Seni Beladiri" secara utuh dimana hal yang terikat pada aturan, harusnya menjadi sesuatu yang "mempunyai tingkatan lebih" dari sesuatu yang tanpa aturan.

Begitu banyak maksud dan tujuan orang berlatih beladiri, Sebagian beladiri mengkhususkan pada pertarungan secara militer, untuk pertarungan jalanan. Sebagian lagi lebih bertujuan pada olahraga yang dipertandingkan, baik itu dalam performa bentuk2 peragaan jurus atau dalam beladiri jepang lebih dikenal dg sebutan "kata", atau dalam bentuk pertarungan persahabatan baik yang full contact dan non contact, itupun masih terbagi dalam bentuk ground fighting dan secara stand-up. Sebagian lagi lebih menekankan pada bidang tenaga dalam atau chi. Dimana ada sebagian lagi yang lebih menekankan pada seni tradisional yang sarat akan kemurnian teknik2 asli yang sarat akan etika dan disiplin. Sebagian lagi mempelajari cara-cara dan teknik memakai senjata dan lain-lain.

Beladiri Sebagai Olahraga yang Dipertandingkan? Itu adalah salah satu salah satu aspek dalam Seni Beladiri. (HC)

Friday, August 1, 2008

Anda Pecinta Seni Beladiri? Takdir Sudah Menentukan Demikian!!

Kolonel Dave Grossman, seorang pendidik ilmu militer dalam bukunya "On Combat" (PPCT Publishing, 2007) menyitir sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa ternyata manusia juga memiliki spesialisasi genetik seperti yang dimiliki serangga. Kalau kita melihat bahwa di dunia serangga terdapat penggolongan alami masyarakat menjadi golongan ratu, pejantan, pekerja dan prajurit... hal yang saya berlaku juga di manusia.

Penelitian itu menyebutkan bahwa sekitar 2% dari manusia dilahirkan dengan catatan genetik untuk menjadi golongan prajurit, yaitu orang-orang yang secara alami akan tertarik pada kegiatan yang berbau kekerasan, perang dan segala pernak-perniknya, meskipun tidak seperti serangga yang perbedaan fisik antara pekerja dan prajurit terlihat jelas. Sedikitpun ini bukan kesalahan, ini sama saja seperti orang-orang yang secara alami tertarik pada tari, bahasa, rekayasa (engineering), bisnis dan banyak lagi.

Penelitian ini menyebutkan bahwa orang yang pada dasarnya bukan prajurit, perlu pelatihan mental khusus untuk bisa berperang dengan baik. Di banyak kasus yang diteliti di berbagai perang sejak abad 19, ditemukan bahwa banyak prajurit yang gugur tanpa sempat menembakkan senjatanya, semata-mata karena mereka tidak sanggup membidik dan membunuh sesama manusia. Ini tidak berlaku untuk orang yang terlahir sebagai prajurit... mereka pembunuh efektif yang alami dan bahkan menikmati kegiatan tersebut. Buat mereka, senapan dan pisau adalah benda seni yang indah yang kerap dielus dan disayang, ilmu berkelahi adalah seni yang memiliki nilai yang dalam yang perlu ditekuni sampai ke cakrawala yang tak terbatas. Itulah panggilan jiwa.

Jadi kalau di masa kecil dulu kita beramai-ramai masuk silat, dan ketika teman-teman kita beramai-ramai pula pindah ke bidang lain sementara kita beberapa gelintir masih menikmati berlatih silat... maka itu memang cetak biru di dalam sel-sel yang kita bawa. Tuhan atau alam (tergantung kepercayaan kita) memang sudah menentukan demikian.

"Follow every rainbow till you find your way"

Tinggal pertanyaannya buat kita-kita yang tidak berkarir di dunia prajurit, bagaimana supaya naluri dasar itu menjadi pendukung di kehidupan yang kita jalani... bukan malah jadi penghalang. (Antara - Sahabat Silat)

Thursday, July 31, 2008

Kiri atau Kanan??

Pengalaman seorang Sahabat yang berlatih Silat Cingkrik, saya rasa ini harus dibagi deh untuk para sahabat yang membaca Blog ini....

"Berlatih Cingkrik enam bulan terakhir ini saya menemukan bahwa jurusnya membentuk pola yang berbeda untuk sisi kanan dan sisi kiri. Saya melihat ada kecenderungan melatih tangan kanan sebagai pendobrak dan tangan kiri sebagai pamungkas (istilah yang bukan standar yaa... cuma asal comot... intinya kanan dan kiri punya fungsi masing-masing yang tidak untuk dipertukarkan).

Di bela diri yang pernah saya pelajari sebelumnya rata-rata melatih porsi yang sama dan serupa antara kanan dan kiri, walaupun prakteknya dalam pertandingan kita secara alami memisahkan fungsi kanan dan kiri.

Apakah pola seperti ini umum di aliran-aliran silat yang lain? Apakah memang silat membedakan fungsi sisi kanan dan kiri sejak awal latihan?"

Ini menarik, saya akan memberi pembanding saja dari disiplin keilmuan yang baru saya pelajari yaitu FMA (FIlipino Martial Arts).

Dalam FMA dikenal Espada y Daga (Pedang dan Pisau), dimana satu tangan memegang senjata utama yang panjang dan yang lainnya memegang senjata yang lebih pendek, disini ada beda dimensi dan beda terhadap jarak. Espada y daga akan melatih kewaspadaan akan serangan lanjutan, karena tangan support lawan dipersenjatai dengan sesuatu yang tajam yang justru punya peran "lebih", pergerakan-pergerakan detail sangat berarti dalam memanipulasi jarak pertahanan dan penyerangan, hingga praktisi selalu dalam keadaan siap.

Disini kebanyakan pemula dalam stick fighting salah pangerten dan justru mematikan peran daga (tangan kiri) padahal dalam prakteknya, adalah lebih mudah block senjata lawan dg senjata kita yang lebih besar (espada) dan secara otomatis nantinyah justru senjata yang lebih pendek dan kecil lebih bebas digunakan untuk eksekusi, senjata yang lebih utama (espada) secara logika akan mendapat perhatian lebih dari lawan.

Pengembangan lanjutan secara kurikulum akhirnya Espada y Daga ini akan
memberi pengaruh pada Double Stick yang tadinya diajarkan di awal2. nah disana akan terlihat betul bagaimana seorang stick fighter yang mengenal espada y daga atau tidak dilihat dari permainan double sticknyah. Dan ini nantinya juga sangat mewarnai permainan Tangan Kosong yang justru dalam kurikulumnya diletakkan di bagian akhir.

Tangan yang tidak dominan di FMA (Filipino Martial Arts) disebut bantay kamay.

"bantay" artinya dalam bahasa Inggris adalah guard, watcher to watch closely, to be on guard. Dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah "bantu", yang secara harafiah artinya adalah "mengawasi" atau "mengawal".

"kamay" artinya adalah "tangan".

terjemahan secara keseluruhan dari "bantay kamay" adalah "tangan yang mengawal", atau "tangan bantu".

Dengan demikian dalam FMA memang dipisahkan secara jelas antara bagian kiri dan bagian kanan, bagian yang dominant dan bagian yang mensuport.
walaupun namanya bantay kamay tapi perannya justru sangat besar, dalam permainan senjata ataupun tangan kosong, bantay kamay ini menentukan dan memudahkan sekali jalannya satu teknik...

Dan Inosanto, menterjemahkan bantay kamay sebagai "live hand".

"If a good Escrimador were asked to point out the singlemost important aspect that makes his fighting work, chances are he would refer to the use of the alive hand. The live hand is the real weapon." - Dan Inosanto

Dan memang bener bantay kamay sendirilah yang menghidupkan satu teknik dalam Arnis-Eskrima dan Kali, tanpa bantay kamay seorang petarung akan kehilangan irama dalam permainannya, entah itu nantinya tangan kosong, stick fighting ataupun edged weaponry system.

Bantay kamay merupakan bagian dari satu system pelatihan secara utuh, oleh sebab itu kita tidak bisa membahas hanya bantay kamay-nya sajah.

Dalam prakteknya semua beladiri pasti punya symmetry dan fokus kemudian detail, dan itu tentunya semua dibangun dari hal yang general/umum dulu, dalam FMA symmetry atau balance dibangun melalui drill double stick dalam bentuk sinawali yaitu pembagian yang merata antara kiri dan kanan terlebih dahulu, baru kemudian di berikan fokus pada single stick (baru disini dikenal kata bantay kamay) dan kemudian didetail dalam espada y daga.

Dalam pelatihan untuk orang kidal saya rasa seorang guru akan kesulitan memberikan langsung detail pada siswa yang bersangkutan, dan saya rasa inipun sama terhadap Seni Beladiri yang lain, justru pada tahapan tertentu siswa sendiri yang dituntut untuk menyesuaikan keadaan maksimal yang suiteble pada diri masing2.

General secara teknikal, seorang petarung seharusnya bisa fokus memakai tangan kiri dan kanan, hal ini merupakan tuntutan. Dalam FMA kurikulum double stick diletakkan lebih awal dari single stick, itu artinya bagaimanapun juga peran tangan kiri memegang senjata itu penting, walaupun tidak maksimal bagi orang ortodoks, tetapi pemakaian senjata pada tangan kiri adalah satu keharusan.

Satu hal lagi yang unik, dalam tahapan kurikulum, sama halnya double stick dan single stick, espada y daga dalam kurikulum juga diletakkan lebih awal daripada daga, nah disitu secara resmi pengenalan praktisi pada pisau pertama kali justru dimulai dari tangan kiri.

Dari pembagian kurikulum di FMA, pelatihan jurus2 di Cingkrik dan beberapa aliran Silat yang lain, dapat disimpulkan:

1. Bagian tubuh kiri pada umumnya (selain yang kidal) jarang sekali digunakan intensif sehingga tingkat keluesannya jauh dengan bagian tubuh (baik tangan maupun kaki) yang kanan. Melatih bagian kiri dengan porsi yang lebih (dengan beban maupun jumlah repetisi yang lebih banyak) akan membuat tingkat keluesan kiri dan kanan menjadi seimbang

2. Alasan lain adalah, bahwa pada prakteknya ketika kita berhadapan dengan lawan, tangan kanan kita akan berhadapan (baca: melayani) tangan kiri lawan, demikian juga sebaliknya. sehingga tanpa kemampuan yang seimbang dengan keluesan dan kekuatan tangan kanan lawan akan cukup merepotkan kita.

3. Kadang bagian tubuh (baca: tangan dan kaki) sebelah kiri kurang di perhitungkan oleh lawan, contohnya seperti ketika kita harus berhadapan dengan lawan yang kidal. kelebihan kidal adalah pada kekuatan dan keluesan tangan dan kaki bagian kanan. nah dengan melatih tangan dan kaki kiri kita maka akan amat sukar bagi lawan untuk membendung dan melayani permainan kiri kita. dan biasanya ini tidak disangka oleh lawan.

*Tulisan ini dibuat berdasarkan diskusi di forum Sahabat Silat: Majuuu... jalan...Kiri... kiri... kiri kanan... kiri... Trimakasih sebesar2nya buat: Bung Antara, Kang Nagapasa, Semua rekan dan admin Sahabat Silat

Salam,
HartCone

Tuesday, July 29, 2008

Seputar Khataman Akbar 2008

Dari Kanan Gambar: Ketua Umum TS Pusat: Ir. M. Fachry, MP. Pembina (Drs.Ec.Sugiyanto), Tamu UndanganKetua Pelaksana Khataman Akbar'2008 Abdul MubarokKetua TS Cabang Bekasi Ustad KarsonoPanitia Khataman 2008Pembina Seni Beladiri Silat "Tiga Serangkai"Bapak Drs. Ec. Sugiyanto(Mas Sugik)Anggota SBDS Tiga Serangkai bersama Ketua TS Cabang Bogor: Bpk. H. R. Iman Supardibersama Dewan Pelatih Pusat

Monday, July 28, 2008

Blind Spot - Titik Pandangan Mati Lawan

Blind spot adalah istilah yang sering di gunakan untuk posisi dimana lawan kesulitan untuk mendeteksi dan mengcounter serangan yang kita masukkan. Dalam beberapa aliran beladiri ini merupakan satu teknik wajib. Dalam Beladiri Jepang (Aikido, Karate dll) Blind Spot disebut Shikaku, Shikaku adalah posisi dimana sudut mata sudah mencapai batas penglihatan secara normal, dan itu adalah kurang lebih 60 derajat diambil dari centerline kearah luar.

Silat Betawi dan Silat Sunda ada istilah Suliwa, Suliwa bisa diartikan "sulaya tina panyangka" terjemahan bebasnya "diluar sangkaan". Padanan kata Suliwa dalam Bahasa Jawa adalah Slewah.

Dalam bahasa Jawa kata "slewah" bisa dicontohkan sebagai berikut:
- Keris pamor slewah adalah keris yang pamornya beda antara dua sisi
- Si X sudah "slewah", itu artinya si X tidak lurus alias "miring", jadi gendeng/gila...
- Mas Kiki ora latihan, mbuh "nylewah" menyang endi? artinya adalah Mas Kiki tidak latihan, tidak tau "menyelinap" kemana tuh? menyelinap mengambil jalan yang "tidak lurus" atau nyerong (berbelok)

Jadi satu kesimpulan, kata slewah dalam bahasa jawa adalah "tidak lurus" yaitu "miring" atau "serong", satu hal yang tidak lazim yang dilakukan oleh pihak pertama yang berbeda dg yang dipikirkan oleh orang kedua, yang lazim bagi orang awam itu yang lurus.

Di Taijiquan disebut sebagai Si Dian (死點) atau "titik mati". Adanya di sisi setiap contact point. Teknik yang digunakan untuk masuk ke sini disebut Ban Quan Da Ren (半圈打人) atau "setengah lingkaran memukul orang".

Dalam Taijiquan Lun (Taiji klasiknya Wang Zhongyue) ada kata-kata seperti ini:

仰之則彌高,俯之則彌深。進之則愈長,退之則愈促。一羽不能加,蠅蟲不能落。人不知我,我獨知人。英雄所向 無敵,蓋皆由此而及也。

Artinya: "Melihat keatas terasa semakin tinggi, melihat kebawah terasa semakin dalam. Maju terasa semakin jauh, mundur terasa semakin terdesak (keempat bait ini berlaku bagi lawan). Sehelai bulupun tidak bisa ditambah, lalatpun tidak bisa hinggap. Orang lain tidak mengetahui diriku, aku sendiri yang mengetahui orang lain (keempat bait ini berlaku bagi diri sendiri). Seorang pahlawan menjadi tidak terkalahkan, dikarenakan oleh hal ini."

Ini menggambarkan perasaan yang terjadi pada saat pengambilan blindspot ala Taijiquan. Pada saat kita kontak dengan lawan, apabila lawan niatnya menyerang ke atas, maka dia akan merasa seolah-olah kita jadi tinggi sekali. Apabila dia berniat menyerang ke bawah, maka dia akan berasa seolah-olah berdiri di depan sumur yang dalam . Mau maju nggak sampai-sampai, tapi mau mundur nggak bisa. Disini tergambar dengan jelas bahwa dalam Taijiquan, setiap terjadi kontak dengan lawan, maka ada unsur controlling (atau dalam bahasa Mandarinnya disebut Na) sehingga menyebabkan lawan mati langkah. Dan untuk mengontrol lawan dengan baik, diperlukan kemampuan untuk mengontrol Center lawan.

Dalam Filipino Martial Arts (FMA) Blind Spot digambarkan dalam penerapan Foot Work Female Triangle. Jadi dalam setiap pergerakan dalam FMA, tujuannya lebih kepada diagonal movement atau pergerakan serong, untuk mendekatkan diri secara aman terhadap lawan adalah dengan mencapai posisi Blind Spot tersebut.

Untuk lebih menjelaskan proses belajar dan terdiskripsi dalam Blind Spot, dalam FMA ada satu system yang dinamakan Espada y Daga, disini tangan utama dipersenjatai Pedang Panjang dan tangan suport dipersenjatai Pisau, versi lain yang sering digunakan dalam pelatihan adalah Olisi y Daga, yaitu pedang diganti dg Olisi atau stick rotan...

Dalam Sistem ini, ada beda dimensi dan beda terhadap jarak. Espada y daga akan melatih kewaspadaan akan serangan lanjutan, karena tangan support lawan dipersenjatai dengan sesuatu yang tajam yang justru punya peran "lebih", pergerakan-pergerakan jelas yang detail pada Blind Spot sangat berarti dalam memanipulasi jarak pertahanan dan penyerangan, bilamana olisi mudah dijangkau untuk disarming dan locking (karena terbiasa sih, soalnya dari awal pelajarannya memang stick fighting) dg penambahan penajaman pada tangan support mau tidak mau praktisi dituntut selalu bergerak pada posisi2 aman, dimana pisau pada tangan lawan tidak lagi bisa menjangkau.

Ini cukup rumit untuk dipelajari, tetapi hasil yang didapat adalah satu bentuk movement yang nantinya akan bener2 mensuport pelajaran tangan kosong yang pada kurikulum diletakkan pada bagian akhir....

Untuk mendapatkan posisi ini tidak gampang dan rata - rata harus menunggu serangan lawan dulu baru bisa masuk blind spot inti dari pencapaian blind spot ini adalah lawan harus lengah dan membuka pertahanan dan salah satu cara membuka pertahanan lawan adalah membiarkan lawan menyerang duluan.

Meski memang ada banyak macam cara untuk mendapatkan blind spot ini, tapi cara yang paling umum dilakukan adalah diawali dengan teknik hindaran keluar dan menyerang lawan dari posisi luar.

Yang di maksud posisi luar ini adalah posisi menyambut serangan dari luar (dalam silat dikenal juga dengan teknik sambut luar. aplikasi teknik ini adalah dengan cara menghindar serangan lawan (baik pukulan atau tendangan lurus) kearah kanan lawan dengan membentuk sudut tertentu terhadap posisi lawan (biasanya sudut serangnya adalah 45 derajat).

Di beberapa aliran silat teknik dari blind spot ini di barengi juga dengan serangan masuk dari arah samping luar lawan (biasanya jika lawan memukul dengan tangan kanan, kita akan sambut dari arah tangan kanan luar). bentuk serangan masuk bisa pukulan atau tendangan.

Bahkan ada juga yang sambil menyerang melakukan kawalan terhadap tangan kanan lawan dan biasanya yang dikawal itu adalah sikut dari tangan kanan lawan. kawalan sikut ini dalam melakukan teknik blind spot berguna untuk menjaga agar lawan tidak bisa menggunakan tangan kanan untuk melakukan belaan atas serangan yang dilakukan dari blind spot.

Teknik mendapatkan posisi blind spot ini memang perlu ketekunan dan kesabaran dalam melatihnya agar senantiasa mendapatkan posisi blindspot yang paling sempurna. saya yakin semua aliran beladiri memanfaatkan posisi ini sebagai titik serangan balik bagi lawan yang cukup mereportkan (kalau tidak disebut mematikan).

Dalam Tinju, yang sangat diperhitungkan adalah tangan utama lawan, kalau Ortodoks adalah tangan kanan, dimana itu merupakan senjata andalan bisa berupa Cross, Hook atau Upercut yang bisa berdampak fatal, hal ini terkait juga dg footwork tinju dimana lead kaki selalu memakai kaki kiri didepan, hingga dalam match selalu ada kecenderungan petinju selalu bergerak ke bagian kiri lawan (melawan arah jarum jam), Inipun sebenarnya mempunyai tujuan untuk mencari posisi Blind Spot lawan. Tinju dalam tekniknya spesifik terhadap pembagian kiri dan kanan, Petinju yang Soutpaw (Kidal) biasanya bisa membinggungkan oleh lawan yang tidak terbiasa, karena pergerakan yang berlawanan.

Kebalikan dari Blind Spot adalah "Center Line", kalau Blind Spot mengarah pada Penjuru Luar, Center Line mengarah pada Penjuru Dalam.

(Dari Berbagai Sumber - HartCone)

Sunday, July 27, 2008

Hikmah Seputar Khataman Akbar'2008

Alhamdulillah akhirnya, Kegiatan Khataman dan Pengobatan Massal berjalan walaupun tidak sebegitu sempurna yang diharapkan oleh Panitia Pelaksana dan Pengurus. namun ada pengalaman yang amat penting dan perlu dijadikan pelajaran untuk para pengurus Perguruan Seni Beladiri Silat "Tiga Serangkai" khususnya panitia pelaksana khataman di Cabang Bekasi dalam khataman dan Pengobatan Massal ini:1.